Home / Sahabat / Jejak Kisah Pendirian Ansor di Banyuwangi

Jejak Kisah Pendirian Ansor di Banyuwangi

Jejak Kisah Pendirian Ansor di Banyuwangi

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) memiliki peranan penting dalam derap langkah sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai badan otonom yang menangani para pemuda, Ansor memiliki fungsi penting sebagai ujung tombak dalam beberapa kebijakan NU. Ansor senantiasa hadir sebagai eksekutor lapangan dari tiap-tiap keputusan NU. Sebut saja peristiwa 1965. Keputusan konfrontasi antara NU dengan PKI memang dikeluarkan oleh PBNU. Namun yang bergerak di depan, dapat dikatakan, Ansorlah yang berada di garis depan.

Meski memiliki peran yang cukup penting dalam sejarah NU maupun dalam bangsa Indonesia ini, akan tetapi narasi tentang sejarah Ansor sendiri merupakan sesuatu yang sumir. Tak ada kejelasan. Semisal, kapan dan dimana Ansor berdiri. Hingga tahun 1985 dalam Anggaran Dasar GP Ansor hanya menunjukkan kalau Ansor didirikan di Jawa Timur.

Tak ada keterangan dimana tepatnya letak Ansor berdiri diantara 34 Kabupaten / kota yang ada di provinsi ujung Timur Pulau Jawa ini. Di tengah ketakpastian tersebu, Pimpinan Pusat GP Ansor melakukan investigasi mengenai dimana Ansor didirikan.

Tim investigatif ini pun turun ke Jawa Timur. Digelarlah rapat khusus yang membahas soal tersebut. Berbagai Pimpinan Cabang Ansor dari seluruh Jawa Timur dikumpulkan setelah sebelumnya diberitahukan perihal pertemuan tersebut.

Ada dua pendapat kuat dalam pertemuan tersebut, perihal dimana Ansor didirikan. Ada yang mengatakan di Surabaya, adapula yang menyebutnya di Banyuwangi. Keduanya sama-sama berargumen dengan data dan bukti masing-masing. Hingga pertemuan usai, perdebatan antara delegasi Surabaya dan Banyuwangi tak kunjung menemukan titik temu. Akhirnya, persoalan tersebut, diputuskan dibawa ke dalam forum yang tertinggi. Kongres GP Ansor.

Saat itu, kongres diadakan di Palembang. Dua delegasi antara Surabaya dan Banyuwangi masing-masing membawa data dan bukti. Dari Banyuwangi sendiri, membawa berbagai transkrip wawancara, foto-foto dan beberapa dokumen penunjang.

Dalam kongres yang memilih Slamet Efendy Yusuf sebagai ketua umum tersebut, delegasi Surabaya berargumen bahwa cikal bakal Ansor dirintis di kota pahlawan tersebut. Yaitu, dari sebuah organisasi kepemudaan yang dirintis oleh Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri. Keduanya adalah murid Nahdlatul Wathan yang dididik langsung oleh Kiai Wahab Chasbullah.

Organisasi tersebut bernama Persatuan Pemuda Nahdlatoel Oelama (PPNO). karena bernuansa federatif, pada 1931, diganti nama menjadi Pemuda Nahdlatoel Oelama (PNO). Setahun kemudian, atas saran Kiai Wahab, nama itu, diganti lagi menjadi Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO).

Sedangkan delegasi Banyuwangi berdalih lain. Meskipun embrio Ansor telah dirintis di Surabaya, namun itu bukanlah sesuatu yang terhubung langsung dengan NU. Person-person yang menjadi pengurus Ansor kebetulan merangkap juga sebagai aktivis NU. Namun, secara kelembagaan, Ansor bukanlah bagian dari NU kala itu.

Ansor baru diputuskan baru diputuskan secara kelembagaan menjadi bagian dari NU baru terjadi pada 24 April 1934. Keputusan tersebut, dicetuskan dalam Muktamar Ke-IX NU yang kebetulan bertempat di Banyuwangi. Dengan demikian, Ansor didirikan di Banyuwangi pula.

Dari perdebatan yang cukup sengit tersebut, akhirnya kongres menyepakati bahwa berdirinya Ansor adalah di Banyuwangi. Semenjak itulah secara definitif, Banyuwangi ditetapkan sebagai tempat berdirinya Ansor.

Dinamika Pendirian Ansor

Keputusan kongres yang menetapkan Banyuwangi sebagai tempat lahirnya Ansor hanyalah sebatas penyebutan. Tak ada narasi lebih lanjut yang menjelaskan secara detail. Akan tetapi, ingatan masyarakat Banyuwangi secara turun temurun menyebutkan bahwa lokasi tepatnya Ansor didirikan adalah komplek pesantrennya KH. KGS. Sholeh Syamsudin yang terletak di Kelurahan Lateng. Orang Banyuwangi akrab menyapanya Kiai Saleh Lateng.

Tak heran kiranya jika melihat kiprah Kiai Saleh sendiri, jika menyebut Ansor berdiri tepat di kompleks kediamannya tersebut. Ia merupakan tokoh _assabiqunal awwalun’_ di NU. Ia merupakan salah seorang kiai yang turun diundang oleh KH. Hasyim Asyari untuk membicarakan Komite Hijaz yang menjadi momentum berdirinya NU di Bubutan, Surabaya pada 30-31 Januari 1926.

Akan tetapi, dalam beberapa literatur tentang Muktamar kesembilan itu, tidak menyebut pesantren Kiai Saleh Lateng sama sekali. Dalam laporan surat kabar Indische Courant berbahasa Belanda terbitan 26 April 1934, menyebutkan bahwa penyelenggaraan Muktamar berada di Madrasah Al-Chairiyah. Sedangkan Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim menyebutkan, pembukaan Muktamar tersebut di halaman Masjid Jami’ atau yang saat ini lebih dikenal dengan Masjid Agung Baiturrahman.

Sebenarnya, tiga keterangan tempat tersebut tak saling menegasikan. Akan tetapi justru memperdetail tentang tempat-tempat yang dipergunakan sebagai lokasi muktamar. Ketiga tempat tersebut, dalam penelitian yang penulis lakukan, merupakan tempat yang tak saling berjauhan. Jarak antara Masjid Jami’ dengan Madrasah Al-Chairiyah (sekarang SD Al-Khairiyah) hanya 200 Meter. Sedangkan dengan pesantrennya Kiai Saleh tak kurang dari 500 M jauhnya dengan Masjid Jami’.

Dengan jarak yang berdekatan, tidak mengherankan jika ketiga tempat tersebut, sama-sama dipergunakan untuk acara muktamar. Mengingat muktamar kesembilan tersebut telah diikuti oleh ratusan utusan Cabang – Cabang NU dari berbagai daerah.

Selain itu, Muktamar di Banyuwangi ini, menurut Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama berbeda dengan penyelenggaraan muktamar-muktamar sebelumnya. Diantara perbedaan tersebut, yang pertama, adalah dipisahnya sidang antara Syuriah dan Tanfidziyah. Kedua, dalam sidang para peserta telah duduk di bangku yang sebelum-sebelumnya duduk lesehan.

Dari keterangan tersebut, besar kemungkinan, sidang tanfidziyah ditempatkan di Madrasah Al-Chairiyah yang kala itu sudah berupa bangunan sekolah modern yang dilengkapi dengan bangku-bangku. Sedangkan rapat para Rois Syuriah ditempatkan di komplek pesantrennya Kiai Saleh dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, lesehan. Karena, dalam muktamar-muktamar selanjutnya, rapat syuriah itu tetap duduk lesehan dengan posisi melingkar. Sedangkan tumpukan kitab kuning yang menjadi rujukan diletakkan di tengah lingkaran.

Lantas, dari tiga tempat tersebut, dimanakah Ansor untuk pertama kalinya didirikan? Di Masjid Jami’ waktu pembukaankah? Di Al-Chairiyahkah? atau memang di pesantren Kiai Saleh sebagaimana anggapan selama ini?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penting kiranya memperhatikan dinamika yang terjadi dalam proses pendirian Ansor dalam muktamar tersebut.

Gagasan untuk menjadikan Ansor sebagai bagian dari NU memang diinisiasi oleh pembesar ANO, seperti halnya Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri. Gagasan tersebut, kemudian dibawa ke dalam Muktamar di Banyuwangi.

Awalnya, ide itu dibahas dalam sidang tanfidziyah. Dalam pembahasannya, terjadi dinamika yang cukup sengit. Muktamirin yang sedang rapat di Madrasah Al-Chairiyah itu, menolak gagasan menjadikan Ansor bagian dari NU. Mereka malah mengusulkan pendirian _Syamailul Musthofa_ (tabiat pilihan). Yaitu sebuah organisasi yang mengurusi soal minat bakat anak muda untuk dididik menuju anak yang memiliki akhlak mulia.

Hal ini dimaksudkan untuk menggantikan Harokat Nidzamiyah atau Riyadlatul Badaniyah yang lebih menekankan pada aspek pendidikan jasmani belaka. (Choirul Anam, Gerak Langkah Pemuda Ansor: Seputar Sejarah Kelahiran).

Di tengah keputusasaan menghadapi dinamika persidangan di tanfidziyah, para pegiat ANO mendapat angin segar dari KH. Machfud Siddiq, pengurus HBNO yang masih berusia muda dan Kiai Wahab yang notabane-nya pembina utama gerakan ANO. Kebuntuan di forum tanfidziyah dibawa ke dalam sidang Syuriah yang digelar di Pesantren Kiai Saleh Lateng. Berkat, lobi dan penjelasan Kiai Wahab dan Kiai Machfud, akhirnya Syuriah menyepakati usulan tersebut.

Semenjak itulah, tepat tanggal 24 April 1934, di hari terakhir Muktamar, Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO) dinyatakan sebagai bagian (departemen) resmi NU, dengan nama Bagian ANO. Setara dengan Bagian Ma’arif, Bagian Mabarot dan bagian lainnya yang telah ada sebelumnya. (*)

Penulis:
Ayung Notonegoro, salah satu Tim Peneliti Sejarah NU banyuwangi.

About Ansor Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *